Pagi di Lombok Tengah
Kami tiba sebelum matahari terlalu tinggi. Di beranda rumah kayu, alat tenun sudah siap, dan suara benang yang bergesekan menjadi bunyi pertama yang menyambut kami. Tidak ada tergesa-gesa. Ada ritme.
Ibu yang menenun hari itu sudah melakukannya sejak remaja. Ia tidak menyebut pekerjaannya sebagai seni. Baginya, menenun adalah keterampilan rumah tangga yang diwariskan, sama seperti memasak atau merawat tanaman.
Motif sebagai bahasa
Setiap motif punya nama dan cerita. Ada yang berkaitan dengan keberanian, ada yang dengan kesuburan, ada yang hanya dikenal oleh keluarga tertentu. Kami diminta tidak terburu-buru menyebutnya 'desain'.
Di sinilah wastra berbeda dari permukaan kain biasa. Ia menyimpan kode sosial, doa, dan cara sebuah komunitas melihat dunia. Saat kami memilih kain untuk koleksi, kami memilih untuk tidak menghapus kode itu.
Kain yang dibuat dengan tangan tidak pernah benar-benar selesai. Ia terus berubah bersama pemakainya.
Yang tidak bisa dipercepat
Satu lembar kain bisa memakan waktu dua hingga enam minggu, tergantung kerumitan motif dan cuaca—karena pewarnaan alami bergantung pada panas dan angin. Tidak ada tombol percepat.
Kami pulang dengan kain yang tidak sempurna. Ada garis yang sedikit miring, ada warna yang tidak rata. Itu bukan cacat. Itu bukti bahwa seseorang telah menghabiskan waktunya untuk membuatnya.

